KAMI ADA DI KOTA KESAYANGAN ANDA..MADIUN..TELP 0351-494266
KAMI ADA DI KOTA KESAYANGAN ANDA..MADIUN..TELP 0351-494266

Monday, 30 September 2013

Cara Membuat sambel Pecel

Resep Pertama:
Bahan :
1 kg kacang tanah
Bumbu :
1 ons cabai rawit
0,5 ons cabai keriting
1/4 kg gula merah
8 sdm gula putih
4 sdm garam
4 siung bawang putih
5 lembar daun jeruk purut dibuang tulang daunnya
asam jawa secukupnya
cara pembuatan :
1. Sangrai kacang tanah sampai matang
2.Sangrai cabai rawit,cabai keriting, dan bawang putih
3.Kemudian haluskan terlebih dahulu bumbu-bumbu yang ada lalu campurkan dengan kacang tanah yang sudah disangrai dan dihaluskan kembali bersama-sama.
Resep Kedua:
Bahan:
250 ml air matang (kurang ya kalau kacangnya 250gr? tambahin sendiri yah)
250 gr kacang tanah, goreng, haluskan
Haluskan:
4 siung bawang putih
4 bh cabai merah
3 bh cabai rawit
5 cm kencur
6 lembar daun jeruk
1 sdt asam jawa
1 sdt terasi goreng
50 gr gula merah
1 sdt garam
Cara membuat:
1. Campur bumbu halus, kacang tanah halus dan air matang, aduk rata.
2. Sajikan sambal pecel dengan sayuran rebus dan kerupuk.

Monday, 29 April 2013

                                                           www.mmjuicerestaurant.com
Profile MM Juice berdiri sejak tahun 1988 dengan cabang pertama di Jl. Melawai Raya No. 116 A, Jakarta Selatan. MM Juice memiliki kurang lebih 45 jenis juice di dalam menu, baik yang merupakan juice buah ataupun campuran dari beberapa buah dan sayur, yang dikemas dalam cita rasa yang segar, tersebar di Jakarta, Bogor, Depok, Tanggerang, Bekasi, Bandung dan Bali Visi : Menjadi restoran global (mendunia) terkemuka dibidang juice dan makanan, dikelola secara profesional dengan landasan nilai-nilai kekeluargaan yang luhur dan mendatangkan kesejahteraan bagi stake holdernya Misi : Menyajikan berbagai macam jus dan makanan yang inovatif, sehat, bermutu tinggi dan terbuat dari bahan-bahan alami dengan mengedepankan pelayanan untuk kepuasan pelanggan Komitmen : Untuk meningkatkan dan menjaga mutu produk dan pelayanan serta proses pengawasan cabang-cabang, maka MM juice menerapkan ISO 9001-2000 yang proses sertifikasinya sudah dilaksanakan pada tanggal 13 Oktober 2008 oleh lembaga sertifikasi SAI GLOBAL dengan nomor sertifikat QEC25536. Pembaharuan sertifikasi ISO 9001 – 2000 menjadi 9001-2008 pada tanggal 30 Maret 2009. Trinial audit telah dilakukan dengan hasil LULUS telah dilakukan tanggal 28 sd 29 Juli 2011 dan 1 Agustus 2011

Tuesday, 16 April 2013

SEJARAH MADIUN

Sejarah Madiun Sejarah Kota Madiun Dipelajari dari sisa-sisa peninggalan sejarah, baik berupa barang-barang dan lembaga ataupun adat istiadat, maka terdapatnya desa-desa bekas perdikan (yang kini sudah dijadikan Desa biasa/Kelurahan), ternyata erat hubungannya dengan peristiwa-peristiwa kepahlawanan pada abad-abad ke XVII dan XVIII. Pada Abad ke XVII Daerah Sawo (Ponorogo) bagian dari kekuasaan kerajaan Yogyakarta ( oleh Yogya dikenal sebagai kukuban ing sak wetane Gunung Lawu ) ada usaha untuk memisahkan diri (mbalelo) dari induknya ialah kerajaan Yogyakarta, kemudian oleh Sultan Yogyakarta pada waktu itu dikirmkan penumpas pemberontakan yang dipimpim oleh Ronggo. Setelah berhasil menumpas pemberontakan tersebut, maka untuk pusat pemerintahan pada saat itu dipilihlah "KUTO MIRING" terletak di Desa Demangan Kecamatan Taman Kotamadya Madiun, untuk didirikan Kabupaten setelah dirintis pembangunannya kemudian digeser ke utara lagi yaitu ditengah Kotamadya Madiun sekarang di Komplek Perumahan Dinas Bupati Madiun. Disinilah seterusnya Ronggo ke I s/d ke III menjalankan pemerintahan, sedangkan makamnya ada di Desa Taman (dulu Desa Perdikan). Jadi status Desa Perdikan Taman maupun Kuncen, sebagai wilayah Kerajaan Yogyakarta karena disitu disemayamkan pahlawan-pahlawan pada zaman lampau, sehingga kepada orang yang dipercaya menjaga/merawat makam tersebut diberikan hadiah sebagai sumber pencahariannya, satu wilayah Pedesaan serta hak untuk memungut hasilnya, bersifat Orfelijik (turun tumurun). Pada Abad ke XVII di zaman peperangan Diponegoro, munculah salah seorang putera Ronggo (Rongggo ke II) yang dikenal dengan nama "Ali Basah Sentot Prawirodirdjo". Sebelum meletus perang Diponegoro, Madiun belum pernah dijamah oleh orang-orang Belanda atau Eropa yang lain sehingga, Pemerintah Hindia Belanda tidak mengenal apa arti politik dan sosial ekonomi yang terdapat di Madiun, tetapi setelah perang Diponegoro berakhir Madiun menjadi pertahanan terakhir pasukan Diponegoro mulai dikenal oleh orang-orang Belanda arti politik dan sosial ekonomi, banyak daerah pertanian diubah menjadi perkebunan. Pada tanggal 1 Januari 1832 Madiun secara resmi dikuasai oleh Pemerintah Hindia belanda dan dibentuklah suatu Tata Pemerintahan yang berstatus "KARISIDENAN" Ibu Kota Karisidenan berlokasi di Desa Kartoharjo (tempat Patih Kartohardjo) yang berdekatan dengan Istana Kabupaten Madiun di Pangongangan. Sejak saat itu mulailah berdatangan bangsa Belanda atau Eropa yang lain berprofesi dalam bidang perkebunan tebu dengan Pabrik Gulanya seperti PG. Sentul (Kanigoro), PG. Pagotan (Uteran), PG. Rejoagung (Patihan) milik orang cina. Kecuali itu muncul pula perkebunan teh di Jamus dan Dungus, Kopi di Kandangan, Tembakau di Pilangkenceng, semua warga negara eropha bermukim di tengah kota sekitar istana Residen Madiun, supaya tidak kena pengaruh orang Madiun yang pemeberani karena bekas kotanya merupakan tempat pusat pertahanan wilayah timur Mataram (Monconegoro Timur) yang anti belanda. Maka segresi sosial (pemisahan sosial) harus dilakukan. Dikandung maksud untuk membendung jangkuan pengaruh kaum pergerakan rakyat indonesia, maka perlu mengubah ketatanegaraan di Madiun yakni Kota yang berdiri sendiri dimana pemimpimnya tetap bangsa belanda, masyarakat sebagian besar orang asing. Dan lagi pula kerajaan belanda telah mengeluarkan Undang-undang yang mengatur daerah perkotaan yang disebut : Inlandsche Gemeente Ordonantie yang dikeluarkan pada tahun 1906 oleh Departemen Binnenlandsch Bestuur yang dalam hal itu oleh Menteri S. De Graaf. Maka wilayah perkotaan Madiun dipisahkan dari Pemerintah Kabupaten Madiun menjadi Stadsgemeente Madiun atau Kota Praja Madiun atau Haminte Madiun. Kotapraja madiun berdiri berdasarkan Peraturan Pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 20 Juni 1918 dengan landasan Staatsblad Tahun 1918 Nomor 326, sehingga wilayah itu dikepalai oleh seorang Burgemeester yang pertama dijabat oleh Ir.M.K. Ingenlijf semula menjabat asisten residen Madiun (modalnya terdiri dari 12 pedesaan yakni Madiun Lor, Sukosari, Patihan, Oro Oro Ombo, Kartoharjo, Pangongangan, Kejuron, Klegen, Nambangan Lor, Nambangan Kidul, Pandean, Taman) yang administratif berstatus Desa Perdikan dibawah naungan keraton Yogyakarta yang kemudian diganti oleh De Maand hingga tahun 1927. Sedangkan lembaga dan jabatan Walikota Madiun baru diadakan 10 tahun kemudian dengan dikeluarkan staatsblad nomor 14 tahun 1928. Pada Zaman Jepang daerah ini menjadi Madiun Shi yang diperintah oleh seorang Shi Tjo dan mempunyai wilayah 12 Desa, setelah Proklamasi Kemerdekaan, dengan berlakunya Undang-undang Nomor 22 tahun 1948, maka Madiun Shi diubah menjadi Kota Besar Madiun dengan wilayah 12 Desa dibawah perintah Walikota. Kemudian demi pemerataan wilayah berdasar UU Nomor 22 tahun 1948 maka menurut Surat Keputusan Nomor 16 Tahun 1950 Kotapraja Madiun diperjuangkan diperluas dengan mendapat tambahan dari Kabupaten Madiun yaitu 8 (delapan) Desa yakni Demangan, Josenan, Kuncen yang semula berstatus speerti Desa Perdikan Taman, Banjarejo, Mojorejo, Rejomulyo, Winongo dan Manguharjo. Kemudian dengan berlakunya Undang-undang Nomor 1 tahun 1957 sebagai pengganti Undang-undang Nomor 22 Tahun 1948, Kota Besar Madiun berubah menjadi Kotapraja Madiun dengan wilayah 12 desa dan diperintah oleh seorang Walikota, selanjutnya berdasar Undang-undang Nomor 24 Tahun 1958 diadakan perubahan batas-batas wilayah Kotapraja Madiun, kerena mendapat tambahan wilayah sebanyak 8 (delapan) buah desa dari Kabupaten Madiun, sehingga wilayah Kotapraja Madiun menjadi 20 desa. Pelaksanaan perubahan batas-batas ini diadakan pada hari Sabtu tanggal 21 Mei 1960 bertempat di Kabupaten Madiun oleh Walikota dan Bupati. Kemudian dengan Undang-undang Nomor 18 Tahun 1965 sebagai pengganti Undang-undang Nomor 1 tahun 1957, Kotapraja Madiun diubah dengan Kotamadya Madiun dengan wilayah 20 desa dan diperintah oleh Walikota Kepala Daerah. Selanjutnya dengan berlakunya Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah, sebagai pengganti UU Nomor 18 tahun 1965, maka Kotamadya Madiun berubah menjadi Kotamadya Daerah Tingkat II Madiun, dengan wilayah 20 desa dan istilah Walikota Kepala Daerah Kotamadya Madiun diubah menjadi Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II Madiun. Dalam Tahun 1979 atas persetujuan DPRD Kotamadya dan Kabupaten Daerah Tingkat II Madiun, diusulkan pemekaran daerah Kotamadya menjadi 27 Desa/Kelurahan. Dimana terhitung mulai tanggal 18 April 1983 wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Madiun yang semula terdiri dari 1 Kecamatan meliputi 20 Kelurahan dengan luas 22,95 KM2 berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 49 Tahun 1982 dan Surat Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jawa Timur Nomor 135.1/1169/011/1983 tanggal 19 Januari 1983 bertambah menjadi 7 desa yang berasal dari Kabupaten Daerah Tingkat II Madiun yakni Desa Ngegong, Sogaten, Tawangrejo,Kelun, Pilangbango,Kanigoro dan Manisrejo), sehingga luas wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Madiun menjadi 33,92 KM2 terdiri dari 3 Kecamatan dengan 20 Kelurahan dan 7 Desa dimana masing-masing kecamatan terdiri dari 9 Kelurahan/Desa. Sumber : Wikipedia

Wednesday, 3 April 2013

Madumongso Kepung Alun-Alun Madiun

MADIUN, KOMPAS.com Alun-alun Kota Madiun, Jawa Timur, Sabtu (31/12/2011) pagi dikepung oleh jajanan tradisional madumongso. Jajanan sepanjang 1,7 kilometer itu dipegangi oleh sekitar 1.660 ibu-ibu penggerak pembinaan kesejahteraan keluarga yang berdiri mengitari alun-alun. Ketua Tim PKK Kota Madiun Lies Bambang Irianto mengatakan dihabiskan lebih dari 1 ton ketan untuk pembuatan madumongso itu dan melibatkan sejumlah industri rumah tangga di Kota Madiun. "Adapun kegiatan ini bertujuan mempromosikan makanan tradisional madumongso yang selama ini kurang dikenal masyarakat, utamanya mereka yang berkunjung ke Madiun," ujarnya. Madumongso sepanjang 1,7 km ini memecahkan rekor sebagai yang terpanjang mengalahkan rekor sebelumnya yang dicapai oleh Kabupaten Banjarmasin yang berhasil membuat madumongso sepanjang 1,342 km.

Tuesday, 2 April 2013

LEGENDA REOG PONOROGO

LEGENDA REOG PONOROGO Cerita asal mula Reog Ponorogo terjadi pada masa Kerajaan Kediri. Pada saat itu beliau sedang pusing memikirkan putrinya, Dewi Sanggalangit yang selalu menolak pinangan para pangeran dan para raja dari berbagai kerajaan. Beliau cemas sikap putrinya itu akhirnya akan mendatangkan amarah para raja muda dan kemudian mengobarkan perang di Kerajaan Kediri. "Anakku, yang harus kamu pikirkan juga adalah nasib rakyat Kediri. Jika engkau tidak segera menjatuhkan pilihan pada seorang pangeran atau raja, mereka bisa mendatangkan malapetaka bagi Kediri, "kata beliau mengingatkan putrinya. Akhirnya demi menyelamatkan Kerajaan Kediri dari amukan para pangeran atau para raja yang mungkin kecewa dengan sikap Dewi Sanggalangit, Putri Kediri itu pun mengajukan Persyaratan. "Calon suami hamba harus dapat menghadirkan sebuah pertunjukan yang belum pernah ada sebelumnya. Sebagai pengiring temanten harus naik barisan kuda kembar seratus empat puluh ekor, dan terakhir harus dilengkapi pula dengan binatang berkepala dua, "berkata Dewi Sanggalangit kepada ayahandanya. "Syaratmu sungguh sangat berat, anakku. Tapi mungkin itu juga kondisi yang layak untuk seorang Putri Kediri. Baiklah, akan aku umumkan kepada para raja dan pangeran yang datang melamarmu, "berkata Baginda lagi. Mendengar Persyaratan yang diajukan oleh Dewi Sanggalangit, para raja dan pangeran yang tadinya menggebu ingin memperistri Dewi Sanggalangit akhirnya satu persatu mengundurkan diri. Mereka sadar tak akan mampu memenuh permintaan Putri Kediri itu. Akhirnya hanya tinggal dua orang raja yang mengatakan sanggup memenuhi permintaan Dewi Sanggalangit. Mereka adalah Raja Singabarong dari pemerintah Lodaya dan Raja Kelanaswandana dari Pemerintah Bandarangin. Raja Kediri sangat terkejut mendengar laporan bahwa dua raja itu yang akhirnya sanggup memenuhi persyaratan putrinya. Bagi beliau, kedua orang raja itu bukanlah raja yang baik. Raja Singabarong dikenal sebagai seorang raja yang bengis dan kejam. Semua keinginannya harus dituruti, yang mencoba membangkang langsung dibunuhnya. Raja Singabarong sosoknya tinggi besar, dari bagian leher ke atas berwujud harimau, sekujur tubuhnya dipenuhi bulu-bulu yang lebat dan penuh dengan kutu. Oleh karena itulah dia memelihara burung merak yang tugasnya mematuki kutu-kutunya. Sedangkan Raja Kelanaswandana meskipun seorang raja yang gagah dan tampan, namun biasanya sangat aneh. Dia sering menyukai anak laki-laki, namun Raja Kelanaswandana terkenal sebagai raja yang sakti. Dengan kesaktian dan dibantu oleh segenap rakyat Bandarangin itulah Raja Kelanaswandana sudah hampir berhasil memenuhi persyaratan Dewi Sanggalangit. Hanya tinggal mendapatkan binatang berkepala dua maka Raja Kelanaswandana dapat memperistri Putri Kediri yang cantik menawan itu. Sementara itu selagi Raja Kelanaswandana berusaha keras mencari perlengkapan persyaratan Dewi Sanggalangit, Raja Singabarong diam-diam memiliki rencana sendiri. Raja yang berwatak bengis itu ternyata sudah menyiapkan rencana perampasan. "Ha ha ha ha ... biarlah Kelanaswandana yang menyiapkan semua persyaratan, nanti akulah yang menikmati jerih payahnya," Singabarong pun tertawa senang mengingat rencananya. Namun ternyata rencana Raja Singabarong berhasil diketahui oleh Raja Kelanaswandana karena mata-mata Raja Singabarong yang disusupkan di Kerajaan Bandarangin berhasil ditangkap. Raja Kelanaswandana menjadi sangat marah. Maka Raja Bandarangin itu justru memerintahkan pasukannya untuk menyerbu Kerajaan Lodaya terlebih dahulu dari di kelak kemudian hari menjadi penghalang perkawinannya dengan Dewi Sanggalangit. Serbuan pasukan Raja Kelanaswandana sama sekali tidak diduga oleh Raja Singabarong. Maka dalam waktu singkat tim Pemerintah Lodaya yang tanpa pimpinan, karena Raja Singabarong sedang bermalas-malasan dengan burung merak kesayangannya, dapat dikalahkan. Raja Singabarong yang tengah keenakan merasakan kepalanya diikuti burung merak yang sedang mencari kutu menjadi tersentak mendengar suara gaduh di luar istana. Dia segera meloncat ke luar untuk mengetahui peristiwa yang terjadi. Baik Raja Kelanaswandana maupun Raja Singabarong sama-sama tercekat hatinya ketika saling berhadapan. Bagi Raja Kelanaswandana, dia cepat tercekat hatinya karena dalam pandangannya, Raja Singabarong yang datang dengan burung merak di kepalanya, tampak seperti berkepala dua yaitu berkepala harimau dan burung merak. Raja Kelanaswandana pun yakin bahwa Raja Singabarong inilah yang menjadi jawaban Persyaratan Dewi Sanggalangit. Maka Raja Bandarangin itu pun bertekat mengalahkan dan menangkap Raja Singabarong hidup-hidup. Sedangkan Raja Singabarong tercekat hatinya karena serbuan mendadak pasukan Kelanaswandana telah berhasil menghancurkan pasukannya. Raja Singabarong yang menjadi sangat marah segera menyerang Raja Kelanaswandana. Duel pun segera terjadi antara kedua raja yang sakti itu. Namun pada akhirnya Raja Singabarong harus mengakui kesaktian Raja Kelanaswandana. Bahkan karena kesaktian Raja Kelanaswandana, Raja Singabarong dapat dikutuk menjadi binatang berkepala dua dan dijadikan pelengkap persyaratan Dewi Sanggalangit. Demikianlah, maka pada hari yang ditentukan, datanglah rombongan Raja Kelanaswandana yang diringi dengan pertunjukan yang belum pernah ada sebelumnya. Seratus gamelan, gendang dan terompet menimbulkan perpaduan suara yang aneh, merdu mendayu-dayu. Ditambah lagi dengan hadirnya seekor binatang berkepala dua yang menari-nari liar namun menarik hati telah menjadikan rakyat Kediri heboh. Oleh Raja Kelanaswandana pertunjukan kesenian itu disebut Reog. Oleh karena Pemerintah Bandarangin terletak di Wengker, sedangkan Wengker adalah nama lain dari Ponorogo, maka kesenian Reog itu akhirnya terkenal dengan nama Reog Ponorogo. Dengan iringan Reog Ponorogo itulah akhirnya Raja Kelanaswandana berhasil mendapatkan Dewi Sanggalangit dan berjanji menghentikan kesenangannya menyukai anak laki-laki.

Wednesday, 27 March 2013

Asal Mula nama Kota Madiun

Asal Mula nama Kota Madiun Sultan Trenggono adalah Sultan Demak ketiga, sekaligus juga yang terakhir. Beliau mangkat pada tahun 1546 di medan perang dalam usahanya menaklukkan daerah Pasuruan di Jawa Timur. Peristiwa tersebut membawa akibat timbulnya perang saudara antar keturunan daerah Demak untuk memperebutkan tahta kerajaan. Sultan Prawata, putra sulung Sultan Trenggono gugur dalam perebutan tahta itu. Tinggallah Pangeran Hadiri dan Pangeran Adiwijaya. Keduanya sama-sama menantu dari Sultan Trenggono. Yang keluar sebagai pemenangnya adalah Pangeran Adiwijaya. Atas restu Sunan Kudus, Pangeran Adiwijaya ditetapkan sebagai Sultan dan menetapkan Pajang sebagai pusat kerajaan. Bersamaan dengan penobatan Sultan Adiwijaya, dilantik pula adik ipar sultan, yaitu putra bungsu Sultan Trenggonoyang bernama Pangeran Timur sebagai Bupati di Purabaya yang sekarang disebut Kabupaten Madiun. Setelah Pangeran Adiwijaya mangkat karena usianya yang sudah tua, pusat pemerintahan berpindah ke Kerajaan Mataram yang didirikan oleh Danang Sutowijoyo atau yang lebih populer disebut Panembahan Senopati. Ia adalah putra sulung Pangeran Adiwijaya. Konon, Panembahan Senopati berwajah tampan, kemauannya keras dan pandai berperang. Sebagai seorang raja besar, Panembahan Senopati bercita-cita hendak menaklukkan para bupati di seluruh Tanah Jawa di bawah panji-panji Mataram. Terkisahlah Pangeran Timur setelah menjadi bupati di Purabaya. Ia memerintah dengan adil dan bijaksana. Rakyatnya aman dan makmur. Ia disenangi oleh para bupati di Jawa Timur. Dalam memerintah, ia dikenal dengan sebutan Pangeran Ronggo Jumenoatau panembahan Mediyun. Dari kata Panembahan yang berasal dari kata adsar sembah sudah jelas bahwa Pangeran Timur memiliki kedudukan yang lebih dibanding para bupati yang lain karena kepadanya orang menghaturkan sembah. Mungkin karena Pangeran Timur masih keturunan Raja Demak Bintoro. Beberapa bupati yang bersekutu dengan Pangeran Timur di Purabaya yang tidka tunduk pada kekuasaan Mataram adalah Surabaya, Ponorogo, Pasuruan, Kediri, Kedu, Brebek, Pakis, Kertosono, Ngrowo (Tulungagung), Blitar, Trenggalek, Tulung (Caruban), dan Jogorogo. Panembahan Senopati pernah menyerang Purabaya dua kali, namun gagal. Dalam penyerangannya yang ketiga, Panembahan Senopati mengambil langkah-langkah yang menyangkut siasat dan strategi. Para prajurit dibekali dengan kemampuan dan keterampilan dalam mempergunakan senjata (keris, pedang, tombak, panah) dan ketangkasan menunggang kuda serta mengendalikan kuda. Pasukan Panembahan Sneopati dibagi menjadi pasukan inti dan pasukan kelas dua. Untuk mengecoh lawan, pasukan kelas dua dilengkapi dengan segala atribut kebesaran perang: genderang, panji-panji, dan umbul-umbul. Pasukan ini tugasnya mengepung Purabaya dan datang dari arah yang berlawanan. Dalam penyarangan yang dijalankan oleh Panembahan Senopati dibantu oleh dua orang penasihat ahli perang, yaitu Ki Juru Mertani dan Ki Panjawi. Siasat pertama yang dijalankan oleh Panembahan Senopati adalah mengutus seorang istri/selirnya yang amat dikasihinya untuk berpura-pura tunduk pada pemerintahan Pangeran Timur di Purabaya. Tentulah Pangeran Timur bergirang hati. Diterimanya tanda tunduk dari Mataram. Melihat peristiwa itu, beberapa bupati yang menjadi sekutu Purabaya lengkap dengan prajuritnya yang telah lama bersiaga di Purabaya mulai pulang ke daerah masing-masing. Kabupaten Purabaya dinyatakan dalam keadaan aman dan tenang oleh Pangeran Timur. Dalam suasana seperti itu, prajurit sandi Mataram segera menghadap Panembahan Senopati di Mataram. Akhirnya dengan pertimbangan yang masak, Panembahan Senopati memimpin prajurit Mataram untuk menyerang Kabupaten Purabaya dari berbagai arah. Mendapat serangan tiba-tiba dari Mataram, Raden Ayu Retno Jumilah segera mengangkat senjata memimpin para prajurit Purabaya untuk melawan prajurit Mataram, ia masih putri Pangeran Timur. Purabaya yang telah ditinggalkan oleh para sekutunya menghadapi serbuan Panembahan Senopati dipertahankan sepenuhnya oleh pasukan sendiri, itupun yang mereka lawan adalah pasukan kelas dua. Tanpa mendapat perlawanan yang berarti, pasukan inti Mataram segera menyerbu pusat pertahanan terakhir yang berada di kompleks istana Kabupaten Purabaya. Pasukan pertama bertugas melindungi keluarga dan istana. Mereka bertempur dengan gagah berani melawan pasukan inti Mataram. Pertempuran yang sangat sengit itu terjadi di sekitar sendang di dalam kompleks istana. Kabupaten Purabaya akhirnya runtuh pada tahun 1590. Untuk mengenang peristiwa itu, Panembahan Senopati mengubah nama Purabaya menjadi Mbedi Ayun (Mbedi = mbeji = beji dalam bahasa Jawa berarti sendang. Ayun berarti depan atau dapat juga berarti perang. Mbedi Ayun berarti perang di sekitar sendang). Kata Mbedi Ayun akhirnya mengalami perubahan ucapan menjadi Mbediyun, kemudian berubah lagi menjadi Mediyun dan yang terahir adalah Madiun. Konon perang besar itu berakhir pada hari Jumat Legi tanggal 16 November 1590 Masehi, sekaligus ditandai sebagai penggantian nama Purabaya menjadi Madiun

Sunday, 17 March 2013

MADUMONGSO

Madumongso Madumongso adalah camilan yang legit, cocok sebagai teman minum teh di sore hari. Bentuknya seperti dodol tapi teksturnya lebih kasar. Bahan dasarnya beras ketan hitam kualitas super yang harus dipoles ( jawa: disosoh ) terlebih dahulu, untuk menghilangkan kulit arinya yang kasar. Proses pembuatannya ada dua tahap. Yang pertama adalah membuat tape ketan hitam. Beras ketan hitam dicuci bersih dan ditiriskan. Rebus air didalam dandang sampai mendidih, lalu beras ketan hitam ditanak ( jawa : dikekel ) +/- 1 jam. Setelah itu dieler di tampah sampai dingin, kemudian ditaburi ragi sampai rata. Dimasukkan dalam panci yang dilapis daun pisang, lalu ditutup rapat, diperam selama 3 hari. Proses yang kedua, setelah tape matang, santan direbus dengan gula putih dan gula merah menggunakan wajan .Kalau sudah mendidih, tape dimasukkan, dimasak dan diaduk-aduk sampai asad. Madumongso sudah matang, siap dikemas.